Kau Tetap Sahabatku
08 Jun 2026 | Oleh: rastono sumardi
Di Desa Beringin Jaya, sebuah desa terpencil di Sulawesi Tengah, hiduplah dua sahabat sejak kecil: Puji Lestari dan Cahyo. Puji dikenal sebagai gadis paling pintar di sekolah. Wajahnya ramah, prestasinya cemerlang, dan hampir semua orang menyukainya. Sementara Cahyo berasal dari keluarga sederhana. Ia pendiam, sering minder, tetapi sangat berbakat dalam Matematika.
Suatu sore, mereka duduk bersama di rumah Imma Daryanti sambil menikmati rujak belimbing buatan sendiri.
"Yo, kalau sudah besar nanti kamu ingin jadi apa?" tanya Puji sambil tersenyum.
Cahyo menggaruk kepalanya.
"Aku ingin jadi guru Matematika. Tapi entahlah... orang tuaku mungkin tak sanggup membiayai kuliah."
Puji menatap sahabatnya dengan penuh keyakinan.
"Kamu pasti bisa. Aku percaya."
"Lalu kamu sendiri?"
"Aku ingin jadi dokter," jawab Puji ringan. "Kalau kamu sakit, aku obati gratis."
Mereka pun tertawa bersama.
Keesokan paginya, seperti biasa Cahyo mampir ke rumah Puji untuk berangkat sekolah bersama. Namun hari itu suasana berbeda.
"Nak Cahyo, Puji tidak bisa sekolah hari ini," kata ibu Puji sambil menyerahkan surat izin sakit.
Cahyo pulang dari sekolah dengan hati gelisah. Sore harinya ia datang menjenguk sahabatnya.
Saat memasuki kamar, ia melihat Puji terbaring lemah.
"Puji... kamu sakit apa?"
Puji menahan air mata.
"Kaki dan tangan kananku tidak bisa digerakkan, Cahyo."
Dada Cahyo terasa sesak.
"Kamu pasti sembuh. Kita akan sekolah bersama lagi."
Puji menggenggam tangan sahabatnya erat.
"Kalau aku belum bisa sembuh, kamu harus tetap sekolah. Kejar cita-citamu."
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kondisi Puji justru semakin memburuk hingga mengalami kelumpuhan. Orang tuanya memutuskan menjual rumah dan pindah ke Jawa Tengah demi pengobatan.
Perpisahan itu meninggalkan luka mendalam bagi Cahyo.
Sejak saat itu, setiap pagi ia mengayuh sepeda ontelnya sendirian menuju sekolah. Namun pesan Puji selalu teringat dalam benaknya.
"Kejar cita-citamu."
Empat tahun berlalu.
Cahyo lulus SMA sebagai siswa terbaik dan diterima kuliah di jurusan Pendidikan Matematika sebuah Kampus di Gorontalo. Meski hidup pas-pasan, ia tetap bertahan sambil bekerja.
Hubungannya dengan Puji tidak pernah putus. Mereka saling berkirim surat.
Suatu hari surat dari Puji datang.
"Aku sudah bisa berjalan lagi, meski belum sempurna. Dan kami akan kembali ke Desa Beringin Jaya."
Cahyo membaca surat itu berulang kali dengan mata berkaca-kaca.
Saat libur kuliah tiba, Cahyo segera pulang kampung.
"Ma, benar Puji sudah kembali?" tanyanya tak sabar.
Ibunya tersenyum.
"Iya. Sudah tiga bulan."
Tanpa menunggu lama, Cahyo langsung mengayuh sepeda menuju rumah Puji.
"Assalamualaikum!"
Pintu terbuka perlahan.
"Waalaikumsalam..."
Puji berdiri di sana dengan tongkat penyangga. Langkahnya masih tertatih, tetapi senyumnya tetap sama seperti dulu.
Mata keduanya berkaca-kaca.
"Puji..."
"Cahyo..."
Tak banyak kata yang terucap. Kerinduan bertahun-tahun terasa cukup dijawab oleh senyum dan air mata haru.
Sejak itu, setiap sore Cahyo datang menemani Puji.
Suatu malam ada pertunjukan seni di balai desa.
"Puji, ayo kita nonton."
Puji menggeleng pelan.
"Aku sulit berjalan."
"Aku akan menemanimu."
"Nanti aku merepotkanmu."
Cahyo tersenyum.
"Sekarang giliranku menjaga sahabatku."
Puji tertawa kecil.
"Kamu masih sama seperti dulu."
"Dan kamu tetap Puji yang cerdas dan hebat."
Dalam perjalanan pulang, Cahyo berkata,
"Kamu masih punya masa depan."
"Dengan keadaan seperti ini?"
"Kenapa tidak? Kamu bisa jadi penulis."
Puji menatapnya heran.
"Menurutmu aku bisa?"
"Aku yakin."
Sejak malam itu, semangat Puji kembali tumbuh.
Empat tahun kemudian, Cahyo resmi lulus sebagai Sarjana Pendidikan Matematika dengan predikat Cum Laude.
Saat acara syukuran di rumahnya, para tetangga dan sahabat hadir, termasuk Puji.
Kini langkah Puji jauh lebih kuat. Dengan kerudung hijau muda dan senyum cerah, ia membawa sebuah bingkisan.
"Selamat, Pak Guru," katanya.
"Terima kasih. Apa ini?"
"Buka saja."
Cahyo membuka bingkisan itu perlahan.
Di dalamnya ada dua novel berjudul Persahabatan Tanpa Batas dan Kulihat Intan di Desaku.
"Siapa penulisnya?"
Puji hanya tersenyum.
Saat Cahyo melihat sampulnya lebih dekat, ia tertegun.
Puji Lestari.
Matanya membesar.
"Puji... ini karya kamu?"
Puji mengangguk malu.
"Katanya dulu aku bisa jadi penulis. Aku hanya mencoba membuktikan ucapan seorang sahabat."
Tanpa sadar Cahyo memeluk sahabatnya dengan haru.
"Puji, aku bangga padamu."
"Dan aku bangga padamu, Pak Guru."
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Di tengah kebahagiaan itu, mereka menyadari satu hal:
Persahabatan sejati tidak diukur oleh jarak, waktu, atau keadaan. Karena sahabat yang tulus akan tetap hadir, bahkan ketika hidup sedang paling sulit.