Rindu di Tanah Rantau
08 Jun 2026 | Oleh: Ridayati
Di kota yang tak mengenal namaku,
aku menanam langkah di antara debu waktu,
mengejar rezeki yang berlari bersama pagi,
meski hati tertinggal jauh di kampung sendiri.
Setiap malam lampu-lampu jalan menyala,
namun tak ada yang seterang senyum ayah dan ibu di sana,
suara kendaraan menggantikan nyanyian jangkrik desa,
membuat rindu tumbuh semakin membara.
Aku datang bukan karena ingin pergi,
melainkan karena keadaan mengajarkan arti berdiri,
di tanah rantau keringat menjadi saksi,
bahwa mimpi sering menuntut pengorbanan yang tak sedikit.
Betapa ingin kuhirup udara halaman rumah,
duduk di beranda mendengar cerita yang ramah,
menikmati secangkir teh di senja yang merekah,
tanpa dihantui jarak yang memisahkan langkah.
Ibu, maaf bila aku jarang pulang,
bukan karena kasihku mulai berkurang,
aku hanya sedang berjuang di seberang,
agar kelak keluarga tak lagi hidup dalam kekurangan.
Ayah, doa-doamu adalah pelita,
yang menuntunku saat harapan nyaris sirna,
ketika lelah menggenggam jiwa,
aku mengingat nasihatmu dan kembali percaya.
Suatu hari nanti, bila takdir mengizinkan,
aku akan pulang membawa kebahagiaan,
bukan sekadar cerita tentang perjuangan,
melainkan hasil dari setiap air mata dan pengorbanan.
Hingga saat itu tiba,
biarkan rindu menjadi teman setia,
menjaga cinta yang tak pernah berubah,
antara anak di rantau dan rumah yang selalu dirindukannya.
dengarkan pembacaannya :