Menjaga Denyut Budaya Banggai di Era Digital: Di Balik Layar Platform Banggai Kreatif
09 Jun 2026 | Oleh: Arif Nasri
Di tengah gempuran tren global, kebudayaan daerah kerap kali tersudut dan terlupakan oleh generasi muda. Namun, sebuah langkah berbeda diambil di ujung timur Sulawesi Tengah. Melalui platform digital Banggai Kreatif, kearifan lokal Banggai tidak sekadar dirawat dalam arsip berdebu, melainkan dihidupkan kembali sebagai identitas kreatif yang modern bagi para Milenial dan Gen-Z di Kabupaten Banggai.
Platform ini digagas oleh Rastono Sumardi, seorang birokrat sekaligus pegiat literasi dan digitalisasi yang mendirikan komunitas Banggai Kreatif dan Bonua Sastra Banggai. Lantas, bagaimana proses kreatif di balik layar platform ini, dan apa makna mendalam dari nilai budaya Banggai yang mereka usung?
Akar Filosofis: Menyatukan Jiwa dalam Budaya Banggai
Bagi Rastono Sumardi, kebudayaan Banggai bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan landasan etika, falsafah hidup, dan nilai kebersamaan masyarakat lokal.
Nilai inilah yang menjadi fondasi utama konten di Banggai Kreatif. Melalui karya seperti musikalisasi puisi "Fajar Merah Putih di Bumi Banggai" dan lagu "Lipu Banggai", platform ini menyuarakan pesan kuat: Banggai yang maju dan sejahtera tidak boleh kehilangan jiwanya sendiri. Seni tradisional dibalut dengan format yang relevan, mengubah narasi sejarah dan petuah leluhur menjadi karya yang ramah di telinga anak muda zaman sekarang.
"Budaya Banggai itu bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis, melainkan energi hidup yang harus terus mengalir. Jika anak muda kita hari ini lebih akrab dengan gawai, maka di sanalah kita harus menanamkan nilai-nilai luhur leluhur kita. Banggai Kreatif hadir agar identitas kita tidak hilang ditelan zaman."
— Rastono Sumardi, Pendiri Banggai Kreatif.
Proses Kreatif: Kolaborasi Sastra Tradisional dan Sentuhan Teknologi
Proses lahirnya karya di Banggai Kreatif merupakan jembatan unik antara tradisi literasi konvensional dan pemanfaatan teknologi digital.
- Eksplorasi dan Penulisan Teks: Berawal dari riset sejarah lokal, keresahan sosial, hingga keindahan alam Luwuk. Komunitas Bonua Sastra mematangkan ide dalam bentuk teks puisi atau draf lirik.
- Sentuhan Musik dan Teknologi: Draf tulisan kemudian dialihwahanakan menjadi bentuk musikalisasi puisi atau lagu. Pemanfaatan platform aransemen audio modern seperti Suno AI digunakan untuk meracik instrumen agar karya terdengar sinematik dan menggugah emosi pembaca.
- Distribusi Multiplatform: Setelah dikurasi, karya tidak hanya menetap di situs resmi web Banggai Kreatif, melainkan disebarkan ke media sosial. Hal ini mempermudah masyarakat mengakses dan mendengarkan audio pembacaan puisi kapan saja.
"Teknologi dan kecerdasan buatan jangan ditakuti, melainkan diadopsi sebagai alat bantu. Lewat platform digital, kita bisa meracik puisi tradisional menjadi musikalisasi yang sinematik. Kita ingin menunjukkan bahwa sastra lokal dari Gerbang Timur Sulawesi Tengah bisa tampil modern tanpa kehilangan jiwanya."
— Rastono Sumardi
Wadah Ekspresi Tanpa Batas bagi Gen-Z
Banggai Kreatif sengaja didesain interaktif agar tidak berjalan satu arah. Melalui program kontributor, para pelajar, mahasiswa, dan kreator konten lokal dapat mengirimkan karya orisinal mereka, mulai dari puisi bertema kelestarian alam hingga lagu bertema perjuangan dan daerah seperti "Anak Desa Pengejar Mimpi".
"Platform ini milik seluruh anak muda Banggai. Kami menyediakan wadahnya, tetapi energinya ada pada kreativitas para pelajar, mahasiswa, dan seniman lokal. Mari kita tulis sendiri narasi tentang daerah kita, agar dunia tahu betapa kayanya bumi Banggai."
— Rastono Sumardi
Upaya ini secara perlahan mengubah stigma bahwa kebudayaan daerah itu kuno. Di tangan para kreator muda Banggai, budaya Banggai bertransformasi menjadi sebuah kebanggaan—sebuah identitas digital yang menunjukkan bahwa dari kreativitas lokal mampu bersuara di kancah nasional.